Hari AIDS Sedunia 2013

Tumbuh Tanpa Ditanam Dan Dianggap Rumput Liar, Ternyata Tanaman Ini Sangat Berharga


Ada yang menyebut tanaman ini sirih cina atau ketumpang air, ada juga yang menyebutnya tanah sirih. Sebenarnya masih banyak nama lokal untuk tanaman ini yang memiliki nama Latin Peperomia pellucida.


Tanaman ini sering dianggap gulma karena sering tumbuh di pinggir-pinggir tanaman budidaya. Biasanya tumbuh liar di pot, tepi sungai, pekarangan atau pekarangan sekitar rumah, terutama di tempat yang udaranya lembab saat musim hujan.


Saat mengecek kios-kios penjualan online, sirih cina mulai diperdagangkan dengan harga yang berbeda-beda, dan cukup tinggi, per kilogramnya ada yang sampai di atas Rp 75.000. Satu tangkai benih seharga Rp 500, Rp 1.000, dan beberapa tangkai seharga Rp 3.000 atau lebih.


Sabhana Azmy, lulusan agronomi dan hortikultura dari Institut Pertanian Bogor, mengatakan sirih cina adalah tanaman herba dari Amerika Serikat tetapi tumbuh liar dan tersedia di Indonesia. Biasanya muncul di halaman atau di tempat lembab.


“Tapi mereka juga biasa ditemukan di sawah dan tepi parit.”


Daunnya berbentuk seperti daun sirih tetapi lebih kecil, lebih tebal dan lebih berair dengan tekstur yang lembut. Juga memiliki akar yang dangkal dan batang sukulen berwarna cerah. “Tinggi tanaman sekitar 15-45 cm,” ujarnya baru-baru ini.


Manfaat Sirih Cina?


Ganiyat Oloyede, Patricia Onocha and Bamidele B Olaniran University of Ibadan, dalam buku 'Skrining Fitokimia, Toksisitas, Antimikroba dan Antioksidan Ekstrak Daun Sirih Cina dari Nigeria' menyebutkan bahwa tanaman ini secara tradisional bermanfaat dalam pengobatan beberapa penyakit, seperti abses, bisul, jerawat, radang kulit, penyakit ginjal dan sakit perut. Khasiat lainnya juga sebagai obat sakit kepala dan demam.


Hasil penelitian Susie O Sio mengatakan, ramuan ini sebagai alternatif pengobatan asam urat.


Menurut Mappa, T., H.J., E. dan K.N., 2013, dalam hasil penelitian yang berjudul “Formulasi Ekstrak Gel Daun Sasaladahan (Peperomia pellucid L.) dan Uji Efektivitasnya Terhadap Luka Bakar pada Kelinci dalam Jurnal Ilmiah dari Apotik, memberikan penjelasan tentang sirih cina ini sebagai obat penyembuh.


Lalu, peneliti dari Institut Teknologi California Eric J Fielding Sebastien Leprince, dan Anthony Sladen dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis dalam penelitiannya menjelaskan, potensi tumbuhan suruhan sebagai senyawa antikanker, antimikroba dan antioksidan.


Septiana Kurniasari, Dosen Program Studi D3 Farmasi, Universitas Islam Madura mengatakan, sirih cina mengandung beberapa senyawa, antara lain, minyak essensial, flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid.


“Dari kandungan itu, sirih cina memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri, sebagai antiseptik dan antimikroba,” katanya dikutip dari Mongabay.


Dalam pengobatan tradisional, katanya, sirih cina bermanfaat dalam mengobati beberapa macam penyakit, seperti bisul, jerawat, radang kulit, penyakit ginjal dan sakit perut.


“Bisa juga untuk obat sakit kepala, demam, asam urat, menyembuhkan luka, antikanker dan antihipertensi,”katanya Nia, sapaan akrabnya.


Nissa Wargadipura, pendiri Pesantren Ekologi Ath Thaariq, Garut, mengenal tumbiuhan ini sebagai sirih bumi. Sirih cina atau sirih bumi ini termasuk wildfood atau pangan liar. “Sirih bumi ini masuk superfood. Meskipun, mungkin di kalangan petani dianggap gulma. Kenapa? Bisa jadi rantai pengetahuan lokal tentang ini sudah hampir terputus. Maka ini tugas kita untuk menginformasikan lewat media apapun, katanya.


Sirih cina  ini, sebenarnya termasuk tanaman obat, seperti buat menurunkan darah tinggi, mendinginkan dingin perut kalau panas. “Kalau panas dalam, obatnya ini. Cara mengkonsumsinya, bisa dimakan langsung atau buat minuman macam teh. Kalau untuk pangan ia satu bahan untuk pecel.”


Nissa dan keluarga biasa jadikan sirih bumi sebagai obat maupun makanan. “Kami biasa untuk bakwan. Bahan bakwan harus dicampur dengan makanan yang lain.”


Tanaman ini, katanya, bisa dikonsumsi semua dari akar, batang daun dan buah. “Jadi bahan pecel sangat enak.”

Lebih baru Lebih lama